Minggu, 17 Oktober 2010

SAJAK-SAJAK

RAHMATMU TUHAN

Alamku diolesi air langit di pagi hari
Angin seram meninggikan romaku
Isi sumur tak bersahabat dengan jasadku sekarang
Hujan di pagi hari memang menyebalkan

Ku henyakkan raga di pagi buta
Aku terlelap dalam dekapan iblis
Mereka tutupi telingaku dengan dongeng-dongeng paha
Ku tinggalkan lagi sujud di pagi hari kepada—Mu, Rob

Malaikatku menangis dan kesal
Aku bersahabat dengan iblis terjelek
Ya Rob, jangan tempatkan aku di tempat tersadis di alam setelah kehidupan

Hujan di pagi hari memang memuakkan
Butiran air langit menembus manteku bak peluru mengecup dada tentara buta
Tempat berjalan becek tergenang pesing tikus-tikus buncit pemakan ijoan

Terpaksa mengayunkan tungkai demi tuntutan manusia
Hujan di pagi hari membuatku menyumpah serapah tak berarah
Walau basah-basah jua ini rahmat—Mu
Aku ingin bersujud tapi ini kali tidak membumi

Hujan salah, kemarau kucing jua salah
Akh…aku manusia bukan iblis seperti kamu
Bagiku hujan bukan cara untuk membinasakan jasadku
Yang takut hujan adalah iblis, anjing.

Sigelap, 150510

SAJAK-SAJAK

KEBOBROKAN ADAT

Adat terburuk yang dibanggakan anak adam
Oh bengis …
Hanya bisa menyalahkan tanpa berintropeksi
Oh bengis oh buruk …
Susah mengulurkan tangan walau sudah diminta
Semuanya merasa tinggi dan agung
Tidaklah kau mengenal satu sama lain
Atau kau memang manusia-manusia yang besar kepala
Di alam bebas kehilangan santun dan kesabaran
Semua terkikis oleh pergaulan yang menyesatkan
Lalu kau bangga akan tingkahmu?
Oh bengis oh buruk …
Tidakkah kau merasa bersalah?
Oh bengis oh buruk …
Atau kau membanggakan dosa-dosa yang telah membumi?
Oh bengis oh buruk …
Ada imbalan di akhirat atau mungkin ada perluasan di neraka
Oh celaka …

Siliwangi, 16 Oktober 2010

Jumat, 15 Oktober 2010

RESENSI CERPEN


SI HITAM, KEJAM, BENGIS

Judul asli             : Yang Terempas Dan Yang Terkandas
No. ISBN             : 979-407-099-8
Pengarang          : Rusman Sutiasumarga
Penerbit              : Balai Pustaka, cetakan VII, Jakarta
Tahun terbit         : 1995
Jumlah halaman : 91 hal. Ilus : 21 cm
Kategori              : Cerpen

         Pada suatu hari orang-orang kampung sibuk lagi seperti dahulu ketika hendak ada pembakaran kampung. Sekali ini warsiah tidak duduk-duduk di tempatnya biasa, karena stasiun sepi. Sebentar ia berlari ke jalan raya ,sebentar duduk di bawah pohon, kemudian kembali lagi ke jalan kereta tiba-tiba letusan bertubi-tubi hebat menggetar bumi, terdengar dari jurusan barat. Pertempuran sudah dimulai. Bekasi tempat Wasriah sudah menjadi medan pertempuran. Dari jauh, dalam pandangan kabur sambil berlari, ia melihat benda bergerak, berderet memanjang jalan, tetapi belum ia insaf benar atau tidaknya tentang penglihatannya, sebuah peluru datang menyongsong, tepat menembus tulang dadanya. Warsiah terpelanting, jatuh tersungkur di tengah jalan. Sebentar merontak merentak-rentak, mengerang menyumpah-nyumpah, terhambur pula dalam sumpah serapahnya perkataan si bengis lagi, si hitam lagi, hitam, kejam.
        Cerpen ini bertemakan perjuangan sebelum kemerdekaan ditulis tahun 1945. Ada tujuh judul, salah satu kutipan sinopsis di atas adalah “Gadis Bekasi” ditokohkan oleh Warsiah. Warsiah adalah anak petani yang ditinggalkan oleh ayahnya karena romusha dan ditinggalkan oleh ibunya sehari setelah pembakaran rumah. Cerpen ini berlatar di stasiun kereta api Jakarta – Cikampek dan pohon hangus dekat bekas rumah Warsiah. Cerpen ini menggunakan alur mundur. Introduksi Warsiah diketahui setelah cerpen ini klimaks. Pengarang menggunakan tokoh dia dengan amanat kebengisan dan ketamakan para penjajah membuat sengsara kaum pribumi. Nilai sejarah yang terkandung dalam cerpen ini seharusnya menjadikan motivasi bagi kita. Refleksikanlah perjuangan terdahulu para pahlawan kita.
         Bahasa yang digunakan dalam cerpen ini cukup rumit, terdapat kata-kata nonobaku yang mungkin dapat dimengerti oleh pemabaca namun kehebatan pengarang dalam menuliskan cerpen akan sangat terasa unsur deskripsinya.

Sefty Megawati Diksatrasia

Jumat, 04 Desember 2009

Tentang Cinta

Suatu hari, seseorang bertanya pada gurunya :

“Apa itu Cinta ? dan bagaimana cara saya menemukannya ?”

Gurunya menjawab :

“Ada ladang gandum yang luas di depan sana. Berjalanlah kamu tanpa boleh mundur kembali. Kemudian ambil salah satu rantingnya. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan Cinta.”

Orang itu pun berjalan menuju ladang gandum. Dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong tanpa membawa apapun.

Kemudian gurunya bertanya :

“Mengapa kamu tidak membawa satu pun ranting ?”

Orang tersebut menjawab :

“Aku hanya boleh membawa satu ranting saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik). Sebenarnya aku telah menemukan ranting yang paling menakjubkan, tapi aku tidak tau apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana ! Jadi aku tidak mengambilnya. Saat aku melanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwa ranting-ranting yang aku temukan tidak sebagus ranting yang sudah kulewati tadi. Jadi pada akhirnya aku tidak mengambil satupun ranting tersebut.”

Gurunya menjawab :

“Jadi, itulah Cinta.”

Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta ada di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan dari harapan yang lebih. Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan Cinta, maka yang di dapat adalah kehampaan. Tiada sesuatu yang di dapat, karena waktu dan masa tidak dapat di putar kembali. Terimalah Cinta apa adanya.

Jumat, 29 Mei 2009

Kumpulan puisi-puisi

SI BURHAN YANG MALAS

sembilan puluh sembilan hari bertengger di sarang
melirik bak komidi putar
sapaan terabaikan
ohhh....
aku diasingkan
burhan burhan burhan
keterlkaluan

Cerpen

TENTANG CINTA

Suatu hari, seseorang bertanya pada gurunya :
“Apa itu Cinta ? dan bagaimana cara saya menemukannya ?”
Gurunya menjawab :
“Ada ladang gandum yang luas di depan sana. Berjalanlah kamu tanpa boleh mundur kembali. Kemudian ambil salah satu rantingnya. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan Cinta.”
Orang itu pun berjalan menuju ladang gandum. Dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong tanpa membawa apapun.
Kemudian gurunya bertanya :
“Mengapa kamu tidak membawa satu pun ranting ?”
Orang tersebut menjawab :
“Aku hanya boleh membawa satu ranting saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik). Sebenarnya aku telah menemukan ranting yang paling menakjubkan, tapi aku tidak tau apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana ! Jadi aku tidak mengambilnya. Saat aku melanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwa ranting-ranting yang aku temukan tidak sebagus ranting yang sudah kulewati tadi. Jadi pada akhirnya aku tidak mengambil satupun ranting tersebut.”
Gurunya menjawab :
“Jadi, itulah Cinta.”
Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta ada di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan dari harapan yang lebih. Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan Cinta, maka yang di dapat adalah kehampaan. Tiada sesuatu yang di dapat, karena waktu dan masa tidak dapat di putar kembali. Terimalah Cinta apa adanya.

RESENSI CERPEN


DEMI ANAK DAN ISTRI, KROMO RELA MATI


Nama Cerpen     : TIGA KOTA
Judul Cerpen       : YOGYA, Gunung Kidul
Pengarang           : Nugroho Notosusanto
Penerbit               : Balai Pustaka
Seri BP                : No. 2077
Tempat Terbit      : Jakarta
Tahun Terbit         : 1993
Jumlah Halaman : 76 Halaman, cetakan 6
No. ISBN              : 979 – 407 – 244 – 3


             Orang-orang menyingkir untuk memberi jalan kepada pemuda yang membawa lampu. Di dalam cahaya lampu itu tampak badan pencuri itu bengkak-bengkak, robek-robek serta berlumuran darah, keringat dan tanah. Orang-orang yang berdekatan menelentangkannya. Nyala lampu itu menyinari wajahnya yang menyeringai menakutkan. Semua orang melihat, undur selangkah.
           “Ya Allah! Pak Kromo ini!” Kesunyian yang menyusul seruan yang menggemparkan itu. Kemudian, “...Ia sudah mati.”
          Simin dan Paidin menjauh tak tahan. Namun mereka mendengar juga ratap Mbok Kromo yang sedang menangis dan mencabuti rambutnya yang terurai, di kelilingi laki-laki yang dengan tiba-tiba wajahnya penuh belas kasihan. Semua kayu telah dilemparkan, jauh- jauh, dan semua pisau dan golok disisipkan di belakang. Tetapi mengatasi suara ibunya, atun menangis,  “Bapak, Bapak!”
           Dan keesokan harinya seluruh desa mengantarkan jenazah Pak Kromo ke kuburan.

           Kumpulan cerpen Nugroho Notosusanto “Tiga Kota” menggambarkan peristiwa-peristiwa setelah kemerdekaan. Maksud dari Tiga kota adalah cerpen ini terdiri dari tiga judul cerpen yang berbeda latar. Ketiga judul cerpen yaitu Rembang, dengan sub judul : Mbah Danu, Pengantin, dan Tayuban.
          Judul cerpen kedua adalah Yogya, dengan sub judul : Gunung Kidul dan Jeep 04 – 1001 Hilang. Judul cerpen yang terakhir yakni, Jakarta, dengan sub judul : Lagu, Vicker Jepang, Puisi, dan Kemayoran 1954.

           Gunung Kidul, Desa Padas mengisahkan satu keluarga yang miskin dalam kelaparan. Kromo adalah suami dari Mbok Kromo, memiliki satu anak, Atun berusia lima tahun. Saimin dan Paidin adalah warga satu desa, mereka berperan sebagai penjaga malam. Cerpen ini berlatar di Desa Padas pada malam hari. Cerpen ini beralur mundur, bertemakan kehidupan keluarga yang miskin. Pengarang menggunakan sudut pandang ketiga, menggunakan gaya bahasa yang khas yaitu bahasa ilustrasi. Amanat yang terdapat dalam cerpen ini adalah, sesorang yang berbuat itu buruk belum dianggap salah 100 % karena harus paham benar apa yang membuatnya menjadi berbuat buruk. Kromo merelakan nyawanya untuk mati demi berusaha memberi makan keluarganya. Ditulis tanggal 2 Mei 1953.
         Keunggulan dan kelemahan cerpen ini adalah pengungkapan gaya bahasa yang sederhana, tidak terlalu berprosa namun bahasa yang ditemukan cukup sulit.
         Setelah membaca novel ini saya dapat menyimpulkan, cerpen ini layak terbit untuk masyarakat. Banyak nilai-nilai yang membangun mentalitas masyarakat. "Merupakan pelukisan yang jujur dan menyentuh mengenai penyakit-penyakit yang melekat dalam masyarakat di awal-awal tahun kemerdekaan. Suatu pelukisan yang mengacu ke masa depan."

peresensi : irwan ginanjar