Jumat, 29 Mei 2009

RESENSI CERPEN


DEMI ANAK DAN ISTRI, KROMO RELA MATI


Nama Cerpen     : TIGA KOTA
Judul Cerpen       : YOGYA, Gunung Kidul
Pengarang           : Nugroho Notosusanto
Penerbit               : Balai Pustaka
Seri BP                : No. 2077
Tempat Terbit      : Jakarta
Tahun Terbit         : 1993
Jumlah Halaman : 76 Halaman, cetakan 6
No. ISBN              : 979 – 407 – 244 – 3


             Orang-orang menyingkir untuk memberi jalan kepada pemuda yang membawa lampu. Di dalam cahaya lampu itu tampak badan pencuri itu bengkak-bengkak, robek-robek serta berlumuran darah, keringat dan tanah. Orang-orang yang berdekatan menelentangkannya. Nyala lampu itu menyinari wajahnya yang menyeringai menakutkan. Semua orang melihat, undur selangkah.
           “Ya Allah! Pak Kromo ini!” Kesunyian yang menyusul seruan yang menggemparkan itu. Kemudian, “...Ia sudah mati.”
          Simin dan Paidin menjauh tak tahan. Namun mereka mendengar juga ratap Mbok Kromo yang sedang menangis dan mencabuti rambutnya yang terurai, di kelilingi laki-laki yang dengan tiba-tiba wajahnya penuh belas kasihan. Semua kayu telah dilemparkan, jauh- jauh, dan semua pisau dan golok disisipkan di belakang. Tetapi mengatasi suara ibunya, atun menangis,  “Bapak, Bapak!”
           Dan keesokan harinya seluruh desa mengantarkan jenazah Pak Kromo ke kuburan.

           Kumpulan cerpen Nugroho Notosusanto “Tiga Kota” menggambarkan peristiwa-peristiwa setelah kemerdekaan. Maksud dari Tiga kota adalah cerpen ini terdiri dari tiga judul cerpen yang berbeda latar. Ketiga judul cerpen yaitu Rembang, dengan sub judul : Mbah Danu, Pengantin, dan Tayuban.
          Judul cerpen kedua adalah Yogya, dengan sub judul : Gunung Kidul dan Jeep 04 – 1001 Hilang. Judul cerpen yang terakhir yakni, Jakarta, dengan sub judul : Lagu, Vicker Jepang, Puisi, dan Kemayoran 1954.

           Gunung Kidul, Desa Padas mengisahkan satu keluarga yang miskin dalam kelaparan. Kromo adalah suami dari Mbok Kromo, memiliki satu anak, Atun berusia lima tahun. Saimin dan Paidin adalah warga satu desa, mereka berperan sebagai penjaga malam. Cerpen ini berlatar di Desa Padas pada malam hari. Cerpen ini beralur mundur, bertemakan kehidupan keluarga yang miskin. Pengarang menggunakan sudut pandang ketiga, menggunakan gaya bahasa yang khas yaitu bahasa ilustrasi. Amanat yang terdapat dalam cerpen ini adalah, sesorang yang berbuat itu buruk belum dianggap salah 100 % karena harus paham benar apa yang membuatnya menjadi berbuat buruk. Kromo merelakan nyawanya untuk mati demi berusaha memberi makan keluarganya. Ditulis tanggal 2 Mei 1953.
         Keunggulan dan kelemahan cerpen ini adalah pengungkapan gaya bahasa yang sederhana, tidak terlalu berprosa namun bahasa yang ditemukan cukup sulit.
         Setelah membaca novel ini saya dapat menyimpulkan, cerpen ini layak terbit untuk masyarakat. Banyak nilai-nilai yang membangun mentalitas masyarakat. "Merupakan pelukisan yang jujur dan menyentuh mengenai penyakit-penyakit yang melekat dalam masyarakat di awal-awal tahun kemerdekaan. Suatu pelukisan yang mengacu ke masa depan."

peresensi : irwan ginanjar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar