Jumat, 15 Oktober 2010

RESENSI CERPEN


SI HITAM, KEJAM, BENGIS

Judul asli             : Yang Terempas Dan Yang Terkandas
No. ISBN             : 979-407-099-8
Pengarang          : Rusman Sutiasumarga
Penerbit              : Balai Pustaka, cetakan VII, Jakarta
Tahun terbit         : 1995
Jumlah halaman : 91 hal. Ilus : 21 cm
Kategori              : Cerpen

         Pada suatu hari orang-orang kampung sibuk lagi seperti dahulu ketika hendak ada pembakaran kampung. Sekali ini warsiah tidak duduk-duduk di tempatnya biasa, karena stasiun sepi. Sebentar ia berlari ke jalan raya ,sebentar duduk di bawah pohon, kemudian kembali lagi ke jalan kereta tiba-tiba letusan bertubi-tubi hebat menggetar bumi, terdengar dari jurusan barat. Pertempuran sudah dimulai. Bekasi tempat Wasriah sudah menjadi medan pertempuran. Dari jauh, dalam pandangan kabur sambil berlari, ia melihat benda bergerak, berderet memanjang jalan, tetapi belum ia insaf benar atau tidaknya tentang penglihatannya, sebuah peluru datang menyongsong, tepat menembus tulang dadanya. Warsiah terpelanting, jatuh tersungkur di tengah jalan. Sebentar merontak merentak-rentak, mengerang menyumpah-nyumpah, terhambur pula dalam sumpah serapahnya perkataan si bengis lagi, si hitam lagi, hitam, kejam.
        Cerpen ini bertemakan perjuangan sebelum kemerdekaan ditulis tahun 1945. Ada tujuh judul, salah satu kutipan sinopsis di atas adalah “Gadis Bekasi” ditokohkan oleh Warsiah. Warsiah adalah anak petani yang ditinggalkan oleh ayahnya karena romusha dan ditinggalkan oleh ibunya sehari setelah pembakaran rumah. Cerpen ini berlatar di stasiun kereta api Jakarta – Cikampek dan pohon hangus dekat bekas rumah Warsiah. Cerpen ini menggunakan alur mundur. Introduksi Warsiah diketahui setelah cerpen ini klimaks. Pengarang menggunakan tokoh dia dengan amanat kebengisan dan ketamakan para penjajah membuat sengsara kaum pribumi. Nilai sejarah yang terkandung dalam cerpen ini seharusnya menjadikan motivasi bagi kita. Refleksikanlah perjuangan terdahulu para pahlawan kita.
         Bahasa yang digunakan dalam cerpen ini cukup rumit, terdapat kata-kata nonobaku yang mungkin dapat dimengerti oleh pemabaca namun kehebatan pengarang dalam menuliskan cerpen akan sangat terasa unsur deskripsinya.

Sefty Megawati Diksatrasia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar